Penjelasan Obligasi Lengkap

Pengantar Obligasi

Penjelasan Obligasi Lengkap – Hal pertama yang ada dalam pikiran kebanyakan orang ketika mereka berpikir tentang investasi adalah pasar saham. Pasar saham menjadi menarik untuk dipelajari dan serasa sangat familiar bagi semua kalangan. Kejadian-kejadian yang ada di pasar saham menjadi berita yang menutupi seluruh laman koran bahkan dimedia masa tersedia waktu dan jam-jam khusus untuk mengupas tentang pasar saham atau cerita investor dalam memperoleh kekayaannya di pasar saham umum.
Obligasi, di sisi lain, tidak memiliki daya tarik yang sama seperti saham. Tidak pernah menjadi renungan atau bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran. Obligasi tampak misterius dan membingungkan untuk sebagian besar orang. Ditambah lagi, obligasi jauh lebih membosankan dibanding saham karena tidak ada aktifitas mengenai obligabsi bagi pemengangnya setelah membeli.
Namun, yang dibutuhkan dalam hai ini adalah mengingatkan investor dari keunggulan, keamanan dan stabilitas suatu obligasi. Bahkan, bagi sebagian investor merasa mereka harus memiliki setidaknya sedikit obligasi dari portofolio yang mereka investasikan.
Artikel ini diharapkan akan membantu Anda menentukan apakah tepat atau tidak obligasi bagi Anda. Artikel ini akan memperkenalkan kepada Anda mengenai dasar-dasar obligasi, pengertian obligasi, berbagai jenis obligasi, karakteristik obligasi, bagaimana perilaku obligasi, cara membeli obligasi, dan banyak lagi.

Apa itu Obligasi

Apakah Anda pernah meminjam uang? Tentu saja, Anda harus! Apakah Anda meminta uang kepada orang tua? atau meminjam dari bank? atau mendapatkan uang dalam bentuk pinjaman dari berbagai sumber?. Pertanyaan-pertanyan itu setidaknya menggambarkan sebagian dari apa itu obligasi.

Sama seperti orang yang membutuhkan uang, mereka meminjam. Begitu juga perusahaan dan pemerintah. Sebuah perusahaan membutuhkan dana untuk memperluas aktifitasnya, sementara pemerintah membutuhkan uang untuk program-programnya. Masalah besar suatu organisasi adalah bahwa mereka membutuhkan uang dalam jumlah yang banyak yang sulit didapatkan dari bank. Salah satu solusi untuk mendapat uang adalah dengan menerbitkan obligasi (atau instrumen utang lainnya) ke pasar umum. Ada ribuan investor disana yang siap membeli obligasi jika obligasi yang ditawarkan menarik. Obligasi tidak jauh berbeda dari pinjaman. Organisasi yang menjual obligasi dikenal sebagai penerbit dan pembeli obligasi dikenal sebagai investor.
Dalam hal obligasi, tentu saja tidak ada seorang pun yang akan meminjamkan uangnya untuk mendapat obligasi jika tidak ada keuntungan apa-apa yang akan didapatkan dari obligasi tersebut. Pernyataan ini menjelaskan bahwa meminjamkan uang dengan jaminan obligasi tidak sama dengan meminjamkan uang seperti biasanya. Penerbit obligasi harus membayar ektra dari nilai obligasi tersebut sebagai bentuk terimakasihnya dan nilai ektra ini telah ditentukan dari awal semenjak obligasi tersebut dijual kepada investor. Nilai “ekstra” ini berbentuk bunga/keuntungan/uang. Tingkat bunga sering disebut sebagai kupon. Tanggal di mana penerbit harus membayar jumlah yang dipinjam/nilai obligasi dijual (dikenal sebagai nilai nominal) disebut tanggal jatuh tempo. Obligasi dikenal sebagai efek pendapatan tetap karena Anda tahu persis jumlah uang tunai yang Anda keluarkan untuk mendapat obligasi dan anda tahu berapa besar pengembaliannya ditambah dengan bunga.
Misalnya, Anda membeli obligasi dengan nilai nominal Rp. 10.000.000, tingkat suku bunga 8%, dan jatuh tempo 10 tahun. Ini berarti Anda akan menerima total Rp 800.000 (8% x Rp. 10.000.000) dari bunga per tahun selama 10 tahun ke depan. Sebenarnya, sebagian besar obligasi membayar bunga setahun 2 kali, yang berarti bahwa Anda akan menerima dua kali pembayaran sebesar Rp. 400.000 per pembayaran selama 10 tahun. Ketika obligasi tersebut jatuh tempo, Anda akan mendapatkan kembali uang anda sebesar Rp. 10.000.000.
Utang Versus Equity
Obligasi adalah utang, sedangkan saham adalah ekuitas. Hal ini merupakan perbedaan dasar antara dua sekuritas. Dengan membeli ekuitas (saham) investor menjadi pemilik di sebuah perusahaan. Kepemilikan perusahaan dilengkapi dengan hak suara dan hak untuk mendapat keuntungan di masa depan. Dengan membeli utang (obligasi) investor menjadi kreditur untuk korporasi (atau pemerintah). Keuntungan utama dari menjadi kreditur atau pemilik obligasi adalah bahwa Anda memiliki klaim yang lebih tinggi pada aset dari pemegang saham yaitu; dalam kasus kebangkrutan, pemegang obligasi akan dibayar sebelum pemegang saham. Namun, pemegang obligasi tidak mendapat pembayaran konpensasi atas perhitungan keuntungan jika keuangan perusahaan tidak stabil atau dengan kata lain mengalami kerungian.
Singkatnya, risiko yang ada dalam membeli obligasi lebih kecil dibandingkan dengan saham. Tetapi Keuntungannya juga lebih kecil dibanding dengan saham.
Mengapa repot-repot membeli Obligasi?
Ini aksioma investasi obligasi yang menjanjikan dan lebih aman dibanding dengan saham. Dewasa ini, kita berpikiran bahwa kenapa harus berinvestasi pada obligasi yang tidak bisa memberikan keuntungan yang lebih signifikan dan menjanjikan seperti saham sementara kita harus mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak untuk mendapatkan obligasi. Namun, hal ini tidak berarti bahwa berinvestasi pada obligasi adalah pilihan yang salah. Coba banyangkan anda berada dalam dua situasi dibawah ini:
1) Pensiun – Contoh yang paling mudah untuk pikirkan adalah orang yang telah memasuki masa pensiun. Seorang pensiunan tentu tidak produktif lagi sedangkan hidup harus terus berjalan. Dalam hal ini jika yang bersangkutan telah berinvestasi pada obligasi semasa dia belum pensiun secara otomatis dia akan mendapat bunga dari investasi obligasinya. Hal ini tentu sangat membantu dalam menopang hidupnya.
2) horizon waktu yang lebih pendek – Katakanlah seorang eksekutif muda berencana untuk kembali  melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Pada masa melanjutkan pendidikan dia tidak bisa produktif lagi secara maksimal. Disinilah investasi obligasi berperan. Meskipun saham memberikan peluang yang lebih besar dalam mengembangkan investasinya, namun saham tidak seaman obligasi. Saham memiliki risiko yang cukup tinggi, maka seyogyanya seorang eksekutif muda tidak mengambil risiko yang bisa membuyarkan impian untuk mendapat pendidikan yang lebih tinggi.

Kedua contoh diatas menggambarkan sedikit dari ribuan investor yang ada. Secara global, sebagian besar penasihat keuangan lebih menganjurkan untuk mempertahankan portofolio yang terdiversifikasi dan mengubah bobot dari investasi yang anda lakukan. Misalnya, di usia 20-an dan 30-an penasihat keuangan menganjurkan anda untuk mengalokasikan investasi dalam persentase yang lebih besar kedalam bentuk ekuitas/saham. Kemudian pada usia 40 dan 50-an persentase investasi bergeser keluar dari saham ke obligasi sampai anda pensiun, pada umur ini anda diharapkan memiliki investasi yang akan menghasilkan pendapatan tetap dengan risiko yang kecil.

Karakteristik Obligasi
Obligasi memiliki sejumlah karakteristik yang perlu Anda pahami. Semua karakteristik ini memainkan peran dalam menentukan nilai dari obligasi dan sejauh mana cocok dalam portofolio Anda.
Menghadapi Nilai / Nilai Nominal
Nilai nominal (juga dikenal sebagai nilai pokok) adalah jumlah uang yang akan di dapatkan kembali oleh pemegang obligasi sebesar harga perolehannya pada saat obligasi jatuh tempo. Hal yang sedikit membingungkan dalam obligasi untuk sebagian kalangan adalah bahwa nilai nominal tidak selalu sama jika obligasi tersebut dijual kembali ke pasar sebelum masa jatuh tempo tiba. Harga Obligasi ini berfluktuasi sepanjang hidupnya dalam menanggapi sejumlah variabel (lebih lanjut tentang ini nanti). Ketika suatu obligasi diperdagangkan dengan harga di atas nilai nominal, maka hal ini dikatakan obligasi akan dijual dengan premi. Ketika sebuah obligasi dijual dibawah nilai nominal, maka hal ini dikatakan obligasi dijual dengan harga diskon.

Kupon (Suku Bunga)
kupon adalah jumlah bunga yang akan diterima oleh pemegang obligasi. Suku bunga ini disebut “kupon” karena jauh hari sebelum dunia elektronik berkembang, penerbit obligasi menggunakan kertas “kupon” untuk pembeli obligasi. Namun, hal ini tentu tidak berlaku lagi pada zaman sekarang dimana transaksi obligasi telah menggunakan media elektronik.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebagian besar obligasi membayar bunga setiap enam bulan, tapi mungkin bagi penerbit obligasi untuk membayar bunga secara bulanan, kuartalan, atau tahunan. Besaran nilai kupon dinyatakan dalam persentase dari nilai nominal. Jika obligasi memberikan kupon sebesar 10% dan nilai nominalnya adalah Rp. 10.000.000, maka penerbit obligasi akan membayar kupon sebesar Rp. 1.000.000 per tahun. Bunga tetap atau yang sering disebut sebagai nilai “kupon” dari nilai nominal suatu obligasi seperti ini disebut dengan obligasi tingkat tetap. Kemungkinan lain adalah pembayaran bunga disesuaikan, yang dikenal sebagai ikatan floating rate. Dalam hal ini tingkat suku bunga terkait dengan tarif pasar melalui indeks, seperti tingkat tagihan Treasury.

Kematangan/Tanggal Jatuh Tempo
Tanggal jatuh tempo adalah tanggal di masa nilai yang dikeluarkan oleh investor untuk mendaptkan sebuah obligasi dilunasi oleh penjual obligasi secara utuh. Obligasi yang jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun lebih dapat diprediksi untuk risiko dan hal lainnya dibanding dengan obligasi dengan jangka waktu yang lebih lama. Oleh karena itu, secara umum, semakin lama waktu jatuh tempo, semakin tinggi tingkat suku bunga. Dan juga mengenai keuntungan lainnya, seperti obligasi jangka panjang akan berfluktuasi lebih dari obligasi jangka pendek.
Emiten
Penerbit obligasi merupakan faktor penting untuk dipertimbangkan, stabilitas emiten adalah jaminan utama Anda akan mendapat bayaran kembali dari nominal yang anda keluarkan untuk mendapat obligasi. Misalnya, obligasi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia jauh lebih aman dari pada perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Risiko default (kemungkinan utang tidak dibayar kembali) sangat kecil, sehingga surat berharga (obligasi) pemerintah Republik Indonesia dikenal sebagai aset bebas risiko. Alasan di balik ini adalah bahwa pemerintah akan selalu mampu mendatangkan pendapatan di masa mendatang melalui perpajakan. Disisi lain, Sebuah perusahaan, harus terus memastikan untuk mendapat keuntungan. Jadi bagaimana kalau perusahaan tersebut sudah tidak untung lagi? tentu ini menjadi risiko bagi pemengang obligasi apakah perusahaan tersebut masih mampu membayar obligasi yang telah dikeluarkan?
Namun demikian, ada parameter dalam menetukan peringkat obligasi. Parameter ini sering disebut dengan sistem peringkat obligasi yang bisa membantu investor menentukan risiko dari obligasi sebuah perusahaan. Rating dari obligasi sebuah perusahaan merupakan rapor untuk menentukan kulitas dari perushaan tersebut dalam hal kemampuannya untuk membayar obligasi. Perusahaan-perusahaan blue chip (Blue Chip adalah saham/obligasi dari perusahaan dengan reputasi nasional untuk kualitas, kehandalan dan kemampuannya untuk beroperasi secara menguntungkan dalam situasi perekonomian yang baik ataupun buruk), merupakan pilihan yang sangat aman untuk pembelian obligasi dari mereka. Perusahaan blue ship memiliki rating tinggi, sementara risiko dari obligasi yang mereka keluarkan rendah. Tabel dibawah ini menggambarkan skala peringkat obligasi di lembaga pemeringkat utama di AS untuk obligasi perusahaan Moody, Standard dan Poor dan Fitch.
Rating Obligasi
Rating Obligasi
Pada tabel diatas untuk obliasi peruahaan Moody, S&P dan Fitch pada obligasi dengan peringkat Aaa, AAA, Aa, AA, A, A, Baa, dan BBB disebut dengan katagori Invesment Grade. Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap memiliki kemampuan yang cukup dalam melunasi hutangnya. Sehingga bagi investor dalam hal mencari investasi yang aman, umumnya mereka memilih rating Investment Grade.
Pada tabel diatas juga untuk obligasi tida perusahaan yang sama pada obligasi dengan peringkat Ba,B, BB,B, Caa/Ca/C, CCC/CC/C, C dan D disebut dengan katagori Non Invesment Grade. Non Investment Grade adalah kategori bahwa suatu perusahaan atau negara dianggap tidak memiliki kemampuan yang baik dalam memenuhi kewajibannya. Perusahaan yang masuk kategori ini biasanya cenderung sulit memperoleh pendanaan. Dalam hal ini biasa mereka melakukan upaya untuk mendapatkan dana dengan menawarkan kupon yang tinggi sehingga disebut juga dengan High Yield Bond. Investor yang memilih jenis obligasi ini biasanya cenderung memiliki sifat spekulatif. Sebab jika ternyata perusahaan berkomitmen melunasi seluruh kewajibannya, imbal hasil yang diterima bisa sangat tinggi.

Pada prinsipnya, semakin rendah rating, berarti semakin tinggi risiko gagal bayar dan berarti semakin besar pula imbal hasil (return) yang diharapkan oleh investor. 


Keuntungan, Harga Dan Kebingungan Lain
Memahami fluktuasi harga obligasi mungkin adalah bagian yang paling membingungkan dari artikel ini. Bahkan, banyak investor baru yang terkejut mengetahui bahwa perubahan harga obligasi terjadi setiap hari. Sampai saat ini, kita sudah bicara tentang obligasi seolah-olah setiap investor yang memegang obligasi akan mendapat bayaran yang sama jika menjualnya ke pasar dengan perhitungan nilai obligasi diwaktu berjalan. Memang benar bahwa jika Anda membeli obligasi, Anda dijamin akan mendapatkan dana anda kembali pada saat jatuh tempo. Namun, sebuah obligasi tidak harus dimiliki hingga jatuh tempo karena obligasi juga bisa dijual kembali ke pasar sebelum masa jatuh tempo tiba. Setiap saat, obligasi dapat dijual di pasar terbuka, di mana harga dapat berfluktuasi tergantung situasi pasar apakah obligasi tersebut harus di diskon atau dijual dengan premi. Kita akan membahas sedikit tentang fluktuasi harga obligasi. Pertama, kita perlu mengenal konsep YIELD.

Mengukur Kembali Dengan Yield
Yield adalah konsep perhitungan yang menggambarkan hasil yang akan Anda terima pada obligasi dimasa jatuh tempo dan mengenai bunganya/kupon. Sebenarnya, yield merupakan persamaan antara harga beli sebuah instrumen keuangan dengan present value dari semua pemasukan bersih yang diharapkan sampai instrumen keuangan tersebut mencapai maturitas. Secara sederhana, konsepnya dapat digambarkan sebagai berikut:

               P = I1 / (1+y)1 + I2 / (1+y)2 + … + In / (1+y)n

Dimana: P adalah harga beli suatu instrumen keuangan
I adalah cash inflow yang diharapkan
Y adalah yield to maturity

Yield To Maturity dalam obligasi tentu saja selalu menjadi hal yang rumit dalam dunia ekonomi. Ketika investor obligasi memperhitungkan penghasilan dari sebuah obligasi, mereka biasanya menggunakan Yield To Maturity (YTM).
Harga Dalam Pasar
Sejauh ini kita sudah membahas faktor dari nilai nominal, kupon, jatuh tempo, emiten dan hasil. Semua karakteristik obligasi ini berperan dalam menentukan harga obligasi. Namun, faktor lain yang lebih berpengaruh dalam menentukan harga obligasi adalah tingkat suku bunga yang berlaku dalam perekonomian. Ketika suku bunga naik, akan ada kemungkinan yield obligasi meningkatkan dengan ganjaran nilai kupon/bunga dari obligasi menjadi lebih tinggi. Ketika suku bunga turun, harga obligasi di pasar naik, sehingga yield obligasi menurun dengan efek bunga obligasi akan turun pula.

Jenis-Jenis Obligasi

Obligasi pemerintah
Secara umum, efek pendapatan tetap diklasifikasikan sesuai dengan lamanya waktu sebelum jatuh tempo. berikut ini tiga kategori utama efek pendapatan tetap pemerintah:
Tagihan – efek hutang yang jatuh tempo dalam waktu kurang dari satu tahun.
Catatan – efek hutang jatuh tempo dalam satu sampai 10 tahun.
Obligasi – efek hutang yang jatuh tempo lebih dari 10 tahun.
Obligasi Municipal
Obligasi daerah, yang dikenal sebagai “muni”, adalah obligasi ditingkat pemerintah daerah (biasanya di AS). Keuntungan utama dari obligasi muni adalah bahwa pengembalian nominal dari obligasi yang diperdagangkan bebas dari pajak.
Obligasi korporasi
Obligasi korporasi merupakan obligasi yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta. Perusahaan-perusahaan besar swasta memiliki fleksibilitas dalam menetukan besaran hutang mereka. Umumnya, jangka waktu untuk obligasi korporasi jangka pendek kurang dari lima tahun; menengah adalah lima sampai 12 tahun, dan jangka panjang adalah lebih dari 12 tahun. Obligasi korporasi ditandai dengan tingkat bunga yang lebih tinggi karena ada risiko yang lebih tinggi dari obligasi sebuah perusahaan.

variasi lain dari obligasi korporasi adalah obligasi konversi, artinya pemegang obligasi korporasi dapat mengkonversi obligasinya menjadi saham. Dan yang terakhir adalah obligasi callable, yaitu obligasi yang memungkinkan perusahaan untuk menebusnya sebelum masa jatuh tempo tiba.

Obligasi Zero-Coupon
Obligasi ini adalah jenis obligasi yang tidak memberikan bunga atau kupon seperti obligasi pada umumnya. Obligasi ini dijual dengan harga diskon yang cukup besar sehingga pembelinya mengharapkan mendapat keuntungan dari nilai yang dikembalikan pada saat obligasi jatuh tempo. Obligasi tanpa bunga ini ada yang memiliki jangka waktu pendek maupun panjang. Obligasi yang berjangka waktu panjang umumnya memiliki masa jatuh tempo 10 tahun hingga 15 tahun. Untuk obligasi dengan jangka waktu dibawah 1 tahun disebut dengan surat utang seperti misalnya Treasury bill di Amerika, Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia.

cara membaca tabel obligasi
Tabel Obligasi
Tabel Obligasi
Kolom 1: Emiten – ini adalah perusahaan, negara (atau provinsi dan daerah) atau negara yang menerbitkan obligasi.
Kolom 2: Kupon – kupon tersebut mengacu pada tingkat bunga tetap bahwa penerbit membayar kepada pemberi pinjaman.
Kolom 3: Tanggal Jatuh Tempo – ini adalah tanggal dimana peminjam akan membayar kepada investor utama mereka atas nilai obligasi pada saat penjualan.
Kolom 4: Harga Penawaran – Harga ini adalah harga seseorang bersedia untuk membayar obligasi (dalam bentuk persentase dari nilai obligasi).
Kolom 5: Hasil – hasil menunjukkan bunga yang akan diberikan dari obligasi tersebut hingga waktu jatuh tempo tiba. Hasil ini berkaitan dengan Yield To Maturity seperti pembahasan diatas.
Bagaimana Cara Membeli Obligasi?
Sebagian besar transaksi obligasi dapat dilakukan melalui layanan broker. Anda dapat membuka rekening pada broker obligasi dengan syarat dan ketentuan yang harus anda ikuti seperti yang telah mereka tetapkan. Selain itu, ada beberapa lembaga keuangan yang juga menyediakan layanan transaksi obligasi kepada customer mereka. Namun, jika bank atau lembaga keuangan anda tidak menyediakannya, Anda dapat membeli obligasi pemerintah melalui instansi pemerintah ( hal ini berlaku di sebagian besar negara). Di AS Anda dapat membeli obligasi langsung dari pemerintah melalui Treasury Direct di http://www.treasurydirect.gov.
Harus diingat bahwa Anda harus penelitian terlebih dahulu sebelum memutuskan darimana anda akan membeli obligasi. ini penting mengingat risiko dari obligasi dan ditambah lagi risiko jika anda salah memilih tempat untuk melakukan transaksi obligasi.

Kesimpulan
Sekarang Anda tahu dasar-dasar obligasi. Tidak terlalu rumit, bukan? Berikut adalah rekapan dari apa yang telah kita bahas diatas:
  1. Membeli obligasi berarti Anda meminjamkan uang Anda.
  2. Obligasi juga disebut sekuritas pendapatan tetap karena arus kas dari mereka adalah tetap.
  3. Saham adalah ekuitas sedangkan obligasi adalah utang.
  4. Alasan utama untuk membeli obligasi adalah untuk diversifikasi portofolio Anda agar Anda mendapat penghasilan tetap.
  5. Emiten adalah penerbit obligasi seperti pemerintah atau perusahaan.
  6. Obligasi ditandai dengan nilai nominalnya, tingkat kupon, kematangan dan penerbit/emiten.
  7. Yield adalah tingkat pengembalian yang Anda dapatkan dari obligasi.
  8. Ketika harga naik, yield turun, dan sebaliknya.
  9. Ketika suku bunga naik, harga obligasi di pasar jatuh, dan sebaliknya.
  10. Tagihan, catatan dan obligasi semua sekuritas pendapatan tetap diklasifikasikan oleh kematangan.
  11. Obligasi pemerintah adalah obligasi paling aman, diikuti oleh obligasi daerah, dan kemudian obligasi korporasi.
  12. Obligasi tersebut tidak bebas risiko. Terutama obligasi korporasi.
  13. Obligasi berisiko tinggi / high-yield dikenal sebagai obligasi yang tidak bagus.
  14. Anda dapat membeli obligasi melalui broker atau bank atau langsung melalui pemerintah.
  15. Seringkali, broker tidak akan mengenakan biaya komisi untuk pembeli obligasi tapi mereka akan melakukan mark up harga gantinya sebagai gantinya.

Penjelasan diatas sedikit menggambarkan tentang obligasi, jika ada yang ingin memberikan saran atau request sebuah topik silahkan mengisi kolom komentar dibawah atau bisa mengirim email ke admin. Semoga artikel ini membantu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *